Selasa, 12 Juli 2011

Ingin sekali rasanya berbagi cerita dengan sahabat blogger sekalian, sekedar untuk membangkitkan kembali motivasi yang tercecer, semangat hidup yang berserakan dan cita-cita yang mulai retak. Cerita yang memilukan ini amat sangat berharga bagiku, bagi adikku dan orang tuaku (ummi) dan mudah-mudahan juga berharga bagi sahabat blogger yang membacanya saat ini.
Bukan bermaksud untuk membeberkan A’ib yang ada dalam keluargaku, tapi ini adalah kenyataan yang terjadi, terlahir ditengah-tengah masyarakat yang kurang responsif terhadap pentingnya ilmu pengetahuan bahkan saudara-saudara ummi dan saudara-saudara sepupuku sendiri....... mengutuk keinginan untuk menyekolahkan adikku dipondok pesantren al-Amien Prenduan Sumenep.
Yaaahh... mungkin mereka juga ada benarnya karena keluargaku memang sangat tidak pantas untuk menuntut ilmu setinggi langit, “paling juga nanti ujung-ujungnya jadi petani tembakau” celoteh mereka. Aaaah, aku jadi ingat judul antologi puisi salah seorang sastrawan sekaligus budayawan “Orang miskin dilarang Sekolah”. Asiif-asiif nian nasib keluargaku.
Walaupun demikian yang terjadi dengan berbekal semangat, banting tulang dan disertai dengan do’a kepada Sang Pemberi Penghidupan ini. Alhamdulilah .... dua tahun sudah Adikku belajar dipondok al-Amien Prenduan Sumenep dan empat tahun kurang sedikit saya kuliah di Hidayatullah Surabaya. Segala puji bagi Allah yang Maha Kaya.
Sekitar lima hari yang lalu, hatiku bagaikan terisis pisau tumpul, ada rasa iba, ada ada rasa senang, dan ada rasa bangga......... Merasa iba karena saudara-saudara yang kami miliki tidak peduli, acuh tak acuh, walaupun hanya sekedar untuk meminjamkan uang beberapa waktu lamanya. Merasa iba karena rasanya memang tidak pantas ummi mengantarkan saya dan kedua adik saya ke pulau harapan dan cita-cita. Merasa senang karena saya punya ummi yang tegar dalam menjalani semua ini dan yang terakhir saya merasa bangga karena punya adik yang berhati malaikat (tidak patah semangat, kata-katanya menyejukkan dan murah senyum).
Diceritakan, adek saya murung, tidak banyak bicara dengan temen-temanya dalam beberapa hari.... Mau tahu penyebabnya? Karena sudah lumayan lama ibuku tidak ke pondok dan ada tunggakan iuran kamar selama empat bulan. Itulah sebabnya kenapa adik saya murung,,,,,,saya memaklumi dan itu manusiawi sebagai seorang siswi dan santriwati yang serba terbatas sepertinya.
Ada banyak keheranan dari ustadzah-ustadzah, sahabat dan teman-temannya yang tidak biasanya adikku murung....... ketika ditanya mengapa dan apa yang terjadi, jawabnya hanya satu “geleng kepala”. Jawaban yang paling membingungkan bagi saya pribadi........
Adikku semakin paham bahwa ummi memang sudah tidak kuat lagi untuk membiayai pendidikannya selama dipesantren, makanya pada suatu kesempatan adikku sempat bilang kesahabat-sahabatnya bahwa bisa jadi selepas liburan Rhamadhan bisa jadi tidak kembali lagi ke pesantren. Ternyata kata-kata itu cukup untuk menusuk sahabatnya dan semakin tahu kalau adikku murung dari kemaren karena tidak bisa bayar iuran (kendala finansial).
Tiga puluh menit sebelum adzan maghrib berkumandang, agenda di pesantren al-Amien adalah bersih-bersih, tak ketinggalan adikku tercinta sibuk antri di kamar mandi. Sepuluh menit kita-kita adikku sudah keluar dari kamar mandi dan menuju kamarnya...... Setelah menyinpan sabun dan meletakkan handuk adikku buka lemari, Haaaaah........ adekku kaget karena dilemarinya ada uang tergelatak satu lembar 50 ribu_an, perasaan selama ini dia tidak pegang duit kecuali beberapa lembar seribuan itupun disimpan di dompet. Kemudian adikku tanya ke beberapa sahabatnya tentang uang tersebut, ternyata salah-satu dari sahabatnya mengaku kalau dia yang meletakkannya dia bilang “ambil ja untuk kamu dan jangan bilang ke teman-teman yang lain, demi Allah saya ikhlas”. Sahabatnya yang lain juga memberi beberapa lembar puluhan ribu hingga akhirnya pembayaran iuran kamar dan lain-lainnya lunas karena kebaikan sahabatnya. Subhanallaaaaah......
Duhai.... Allah, semakin saya yakin pada janjimu bagi orang-orang menuntut ilmu akan ada kemudahan-kemudahan, walaupun harus didahului dengan penderitaan dan kesabaran. Dan juga semakin saya yakin pada Sabda Muhammad saw bahwa: “Barang siapa yang menuntut ilmu maka akan dimudahkan jalannya menuju surga” Duhai Allah, terimakasih banyak engkau telah kumpulkan adikku tercinta dengan orang-orang baik hati.
Alhadulillah... kebaikan teman-temannya sedikit mengobati kegelisahan hati adikku, dan saat-saat airmata tertumpah tak tertahan lagi ketika ummi datang dengan senyum yang lebar bersama adikku yang masih suka ngunyah permen...... Adikku jangan pantang mundur kejar cita-citamu sampai titik darah penghabisan. Do’aku akan selalu menyertaimu.

Posted on 07.10 by abdul wahid

9 comments

Sabtu, 09 Juli 2011


The Most important Thing in this life, is not this life.

Hai saudaraku..... Kalau yang terpenting dalam hidup anda saat ini adalah meneruskan hidup, maka apapun pekerjaan dan kegiatan yang anda lakukan, semata-mata tertuju untuk menghiasi dan mencukupi apa yang kita ingikan, kalau itu yang terjadi sepertinya keinginan manusia tidak akan pernah ada habisnya sampai ajal benar-benar menjemput kita.

Bagi saya sendiri hidup itu, bukanlah seuatu yang terpenting. Tapi yang paling penting dalam hidup ini adalah bagaimana menyiapkan bekal yang sebanyak-banyaknya untuk menuju kehidupan yang abadi nantinya. Karena pada hakikat kehidupan yang sebenarnya baru kita akan mulai ketika nafas kita berhenti berhembus.

Memang menyambung hidup itu penting, tapi memaknai hidup itu jauh lebih penting. Saudaraku......, hidup yang bermakna adalah ketika disaat hidup kita bermanfaat bagi orang lain. Sebagaimana Rasulullah berabda: Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia yang lain.(Al hadist). Ketika desah nafas, gerak langkah kita menyatu dalam pengabdian kepada sang Pemberi Hidup. Maka, semua apek dalam kehidupan ini dapat dijadikan media untuk meraih ridha Nya.

Saudaraku.... Dunia ini penuh dengan orang papa. Yang buntung lebih banyak dari yang beruntung, yang lemah lebih banyak dari yang kuat. Keenjangan sekonomi dan keejahteraan menganga. Namun, semua itu tidaklah ada artinya kalau kita mengaku sebagai saudara saling membantu antara satu sama lain.

Sehingga ketika satu sama lain sudah saling membantu, yang beruntung menolong yang buntung, yang kuat menolong yang lemah, spirit memaknai hidup menyala kembali. Hati kita sebagai perasa akan sensitif, peka dan tergerak ketika melihat saudara kita yang butuh uluran tangan kita.

Saudaraku..... tetapi apabila kita sering acuh dengan hal-hal semacam itu, merasa biasa-biasa aja.... maka, jangan-jangan hati kita sudah mengeras lakana batu....

Posted on 20.57 by abdul wahid

4 comments

Rabu, 06 Juli 2011



Islam adalah agama yang mencintai keindahan dan mendambakan teerwujudnya keteraturan dan harmoni dalam berbagai hal। inilah sebenarnya hakikat Islam yang pernah ditengarai Nabi Muhammad SAW dalam sebuah sabdanya "Sesungguhnya Allah Maha Indah dan mencitai keindahan"
Seni pada hakikatnya adalah kreasi-kreasi keindahan yang tak pernah ditentang islam। Namun demikian, tampaknya harus segara ditegaskan bahwa islam memang memprioritaskan prinsip moralitas dari sekedar prinsip keindahan। Dengan kata lain, kreasi-kreasi artistik dan estetik harus dikaitkan dengan, dan berada dibawah kendali, etika dan moral। Inilah sebanarnya sikap dasar islam terhadap berbagai bertuk kesenian। Standar islam dalam menilai berbagai karya seni sebenarnya dapat diformulasikan dengan sebuah kaidah "seni yang baik adalah baik, seni yang buruk adalah buruk"
Al qur'an- melalui ayat-ayatnya yang begitu banyak- kerap kali mengajak pembacanya untuk memmerhatikan keindahan alam raya dengan segala keteraturan dan keserasiannya। Alam raya adalah kreasi Sang Maha indah yang tak pelak telah merefleksikan keindahan dan kesempurnaan penciptanya। Alam raya memang lebih dari sekedar pesona keindahan yang menimbulkan decak kagum yang mengamatinya। lihat Qs। An Nahl: 6
Jika ddemikian halnya perintah Alqur'an untuk mengamati keindahan alam menjadi mustahil bila Islam dianggap memusuhi karya-karya seni dan kesenian। Islam sama sekali tidak menolak karya-karya seni yang luhur। Yang ditolak oleh islam adalah karya-karya seni picisan yang rendah lagi amoral।

Posted on 06.23 by abdul wahid

9 comments

Senin, 30 Mei 2011


Berbahagialah bagi orang-orang yang dianugrahi kesehatan dan kekuatan yang dengan ‎ke dua anugrah itu dapat melakukan apa saja yang kita inginkan। Apakah itu laki-laki atau ‎perempuan, apakah itu orang kaya atau orang miskin, apakah itu pemimpin atau rakyat jelata। ‎Yang jelah, entah di cluster/kelompok apakah dia berada semua pasti dianugrahi kedua ‎kenikmatan sekecil apapuN itu। Jadi setiap orang punya kesempatan dan peluang yang sama ‎untuk berlomba-lomba menjadi yang terbaik।‎
Hanya saja diantara cluster/kelompok yang saya sebutkan diatas laki-lakilah yang Allah ‎ciptakan memiliki kekuatan yang lebih dari pada perempuan, orang kaya laik-laki dari pada ‎orang kaya perempuan, orang miskin laki-laki dari pada orang miskin perempuan, pemimpin ‎laki-laki dari pada pemimpin perempuan, rakyat jelata laki-laki dari pada rakyat jelata ‎perempuan। Secara fisik laki-laki lebih kekar dari pada perempuan, secara psikologis laki-laki ‎lebih tahan banting dari pada perempuan।‎
Mengapa hal ini terjadi? Hal ini terjadi karena tanggung jawab। Ya, tanggung jawablah ‎yang membedakan diantara keduanya। Allah swt berfirman dalam al Qur’an yang artinya: ‎‎“Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian ‎mereka laki-laki atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah ‎memberikan nafkah dari hartanya...” Qs An Nisa’ 34।

Sebagaimana ayat diatas, laki-laki (suami) diamanahi tanggung jawab yang lebih besar ‎dari pada perempuan। Bagaimana dia mengurus dirinya sendiri, istri, anak-anak dan orang-‎orang yang dekat selebihnya। Sehingga bagaimana semua itu bisa dilakukan kalau tidak ‎dianugrahi kekuatan yang lebih? Bisakah kita membayangkan kalau seandainya kekuatan itu ‎sama dengan perempuan atau bahkan dibawahnya dengan tanggung jawab yang harus ia ‎pikul?। Subhanallah॥ mari sejenak kita berfikir betapa adilnya Allah dalam menbagi dan ‎menentukan segala sesuatu terhadap hambanya dan seluruh ciptaannya। Alam ini berjalan ‎dengan teratur karena semata-mata keadilannya।‎
Jadi bagaimana seharusnya seorang wanita (isrti) bersikap Allah melanjutkan firmannya ‎dalam surat dan ayat yang sama “ Maka perempuan-perempuan yang saleh, adalah mereka ‎yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah ‎menjaga mereka....”। Maka sangat tidak benar apabila ada orang yang perpandangan bahwa ‎islam menginjak-injak harkat dan martabat kaum perempuan। Justru dalam islam malah ‎sebaliknya posisi seorang perempuan sangat diagungkan dalam islam, dihormati dan ‎dimuliakan karena melalui rahim seorang ibu dengan sifat yang sabar, pengasih dan penyayang ‎diharapkan akan lahir generasi-generasi yang sholeh। Dan kaum laki-laki dengan sifanya akan ‎melindungi dan bertanggung jawab atas segala sesuatu yang terjadi। Wallahu a’lam bissawab ‎

Posted on 17.08 by abdul wahid

2 comments

Kamis, 19 Mei 2011


Jutaan makhluk yang hidup di bumi semesta ini. Dengan bebagai tekstur kulit yang indah dan ‎bentuk yang unik membuat manusia terpikat dan terpukau dengannya. Kita stress, merasa ‎kehilangan apabila hewan kesayangan kita mati atau bahkan ada yang sampai bunuh diri. ‎Astaghfirullah..........hanya orang-orang yang tak punya akal saja yang akan berani mengambil ‎keputusan sebijak itu.Semuanya memiliki keunikan dan keindahan tersendiri ‎
Akan tetapi, makhluk yang paling unik dan indah itu adalah manusia. Manusia adalah makhluk yang unik, ‎makhluk yang memiliki kompleksitas yang rumit atau ada juga yang menyebutnya manusia adalah ‎makhluk multidimensi. Allah swt berfirman dalam alqur’an yang artinya: “Sungguh, Kami ciptakan ‎manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” Qs At-Tin : 4 ‎
Setuju atau tidak, memang itu benar adanya. Manusia adalah makhluk biologis atau fisiologis ‎dan manusia juga makhluk psikologis. Manusia disatu sisi punya sifat individualis disisi lain manusia ‎tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain. Manusia disaat tertentu selalu berfikir rasional dan pada ‎kesempatan yang lain manusia juga berfikir irasional. Masih banyak sebetulnya dimensi-dimensi ‎yang melekat pada diri manusia kalau kita mau menelusurinya lebih jauh lagi, yang jelas manusia ‎adalah mekhluk multidimensi yang tidak akan pernah ditemukan pada seluruh mahkluk yang ada di ‎semesta alam ini.‎
Ketika manusia punya semua keunikan itu apa yang harus manusia perbuat? Berangkat dari ‎pertanyaan ini maka jawabanya hanya satu yaitu berkaya. Sudahkah kita berkarya atau lebih jauh ‎lagi, karya apa saja yang telah kita hasilkan sejak kita lahir ke semesta alam ini? kebanyakan dari ‎jawaban anak manusia itu sangat simpel “ada dech..!” atau barangkali kalaupun ada bisa dihitung ‎dengan jari, tak sebanding dengan modal keunikan yang dipunyai dengan hasinya. Maka meminjam ‎kata-kata dari seorang pembisnis hal yang semacam itu dinamakan defisit. Artinya manusia dalam ‎kerugian yang nyata.‎

‎ Lalu bagaimana sikap anak manusia ketika terjadi defisit dalam hidupnya. Salah satu solusi ‎yang paling ampuh saya kira adalah reorientasi hidup, mengenali, megingat dan me_refresh kembali ‎apa tujuan kita lahir ke semesta alam ini dan kemana ending dari sebuah perjalanan panjang anak ‎manusia. Kalau reorientasi belum bisa menghasilkan karya-berikutnya. Maka perlu kita tanyakan ‎apa yang terjadi dengan kamu anak manusia.‎
Sungguh hanya dengan karya-karya yang kita hasilkan saja yang dapat kita jadikan bekal ‎dalam pejalanan yang saat itu tidak ada kesempatan lagi untuk berkarya. Wahai anak manusia ‎berkaryalah, ukir hari-harimu dengan modal keunikan yang kamu miliki. Agar tidak menyesal ‎kemudian. Pada saatnya nanti orang sekitarmu menikmati karyanya smentara kamu hanya berdiri ‎mematung sambil mengemut telunjukmu sendiri lantaran tak ada karya sedikitpun yang dapat ‎kamu nikmati. Wallahu a’lam bisshawab

surabaya,19 mei 2011

Posted on 15.31 by abdul wahid

1 comment


Setiap orang pasti menginginkan dirinya sukses, menginginkan dirinya bahagia, ‎menginginkan segala sesuatu yang dikerjakan berakhir dengan kepuasan itu adalah sesuatu ‎yang nornal. Artinya tidak ada yang salah dengan keinginan tersebut entah sebanyak dan ‎setinggi apapun itu. ‎
Banyak orang yang berlomba-lomba, berusaha dan kerja untuk mencapai apa yang dicita-‎citakan. Setelah cita-citanya dicapai apa yang diharapkan? Tidak lain adalah “kebahagian” ‎sepuluh gabungan huruf alfabetis - lima huruf vokal dan lima huruf konsonan - yang sangat ‎menggiurkan seluruh umat manusia di muka bumi ini. Tapi, sayang seribu sayang apabila ‎anak manusia itu salah jalan dalam mencapai kebahagiaan itu. ‎
Ada anak manusia yang menempuh jalan kebahagian dengan jalan kebebasan, ada anak ‎manusia yang menempuh jalan kebahagiaan dengan jalan bersenang senang, ada anak ‎manusia yang menempuh jalan kebahagian berfoya-foya, sering menuruti kehendak nafsu ‎dari pada nurani, apakah dengan jalan seperti itu kebahagiaan akan dicapai? Hmmm... ‎biarlah waktu sendiri yang menjawab dan disaksikan oleh mata kepala sendiri. Karena ‎pelajaran itu akan menjadi guru yang terbaik dalam hidupnya.‎
Kemudian ada juga anak manusia yang menempuh kebahagiaan itu dengan jalan yang ‎berliku-liku, terjal, onak, duri dan jalan yang menguras tenaga dan pikiran yang ektra. ‎Tidak peduli apa saja yang merintanginya maka semua akan dianggap sebagai bumbu ‎kebahagiaan. Dengan harapan ketika kebahagiaan benar-benar dalam genggaman ‎tangannya, maka kebahagiaan itu akan terasa manis rasanya. Lalu dengan pertanyaan yang ‎sama, apakah dengan jalan yang seperti itu kabahagiaan akan dicapai? Biarkan
kata-kata ‎bijak yang menjawabnya.‎

Berakit-rakit kehulu
Berenang-renang ketepian
Bersakit-sakit dahulu
Bersenang-senang kemudian

Jawabannya sudah jelas, kebahagiaan itu tidak akan pernah dicapai dengan jalan yang ‎mulus, jalan yang penuhi dengan bunga-bunga di samping kanan-kirinya. Melaikan jalan ‎kebahagiaan itu laksana meniti jalan sempit lagi menanjak, sedikit saja menoleh kita akan ‎terpelet, jatuh dan mungkin saja tidak bisa bangkit lagi.‎
Menjadi penting kiranya dalam menapaki jalan menuju kesuksesan itu diriringi dengan ‎do’a kepada yang mempunyai segudang kebahagiaan itu, agar dimudahkan dalam ‎melangkahkan kaki dan diberi kekuatan untuk bangkit kembali apabila dalam pejalanan ‎terpeleset dan jatuh.............dan selalu istiqamah di jalanya. Rasulullah telah mengajarkan ‎kepada kita dengan do’a yang simpel dan sangat indah: ‎
Ya Allah....‎
Aku berlindung kepadamu dari rundungan sedih dan duka
Dari sifat lemah dan malas
Aku berlindung kepadamu dari sifat kikr dan bakhil
Aku berlindung kepadamu dari beban hutang dan penindasan
Maka tatkala suatu saat nanti kebahagiaan itu dapat kau raih, jangan lupa kepada orang-‎orang yang ada di sekitarmu. Biarkan mereka mengambil manfaat sebanyak-banyaknya ‎darimu agar kebahagiaan yang kau dapat semakin terpatri didalam kalbumu.
Wallahu a’lam ‎bishowab

Posted on 15.24 by abdul wahid

No comments

Rabu, 09 Maret 2011

Pengertian Kepemimpinan
Ada banyak literatur yang mengemukakan pendapat para tokoh ter¬kait tentang definisi kepemimpinan. Untuk lebih memudahkan dalam mema¬hami definisi kepemimpinan, maka akan dikemukakan pendapat me¬reka di¬antaranya adalah:
1. Menurut Robbins kepemimpinan adalah kemampuan untuk mem¬pengaruhi kelompok menuju pencapaian sasaran.
2. Menurut Gibson dkk kepemimpinan adalah suatu usaha menggu¬na¬kan suatu gaya mempengaruhi dan tidak memaksa untuk me¬motivasi individu dalam memcapai tujuan.
3. Menurut Stoner kepemimpinan adalah proses mengarahkan men mempengaruhi aktiviatas yang berkaitan dengan pekerjaan dari anggota kelompok.
4. Menurut Rivai kepemimpinan adalah peranan dan juga proses daam mempengaruhi orang lain.
5. Menurut Kartono kepemimpinan adalah kemampuan untuk mem¬be¬rikan pengaruh yang konstruktif kepada orang lain untuk melakukan usaha yang kooperatif mencapai tujuan yang sudah di¬rencanakan.
6. Menurut Yulk kepemimpinan adalah sebagai proses mempenga¬ruhi, yang mempengaruhi interpretasi mengenai peristiwa-peris¬tiwa bagi para pengikut, pilihan dari sasaran-sasaran bagi kelom¬pok atau birokrasi, pengorganisasian dari aktivitas-aktvtas kerja untuk mencapai sasaran-sasaran tersebut, motivasi dari para pen¬gikut untuk mencapai sasaran, pemeliharaan hubungan kerja sama dan team work serta perolehan dukungan dan kerja sama dari orang-orang yang berada diluar kelompok atau birokrasi
Dari sekian banyak pendapat para tokoh yang telah dikemukakan di¬atas tentang definisi kepemimpinan maka, dapat diambil sebuah simpulan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan yang dimiliki oleh seorang pe¬mimpin dalam mengarahkan, membimbing mendorong dan mempengaruhi orang yang dipimpim ke arah yang sama yaitu tercapainya sebuah tujuan yang telah ditetapkan bersama. Lebih lanjut Sondang P. Siagian (1994: 35) men¬gatakan bahwa:
“Kepemimpinan merupakan inti manajemen yakni sebagai motor penggerak bagi sumber-sumber dan alat-alat bagi organi¬sasi. Sukses tidaknya organisasi mencapai tujuan yang telah dite¬tapkan tergantung atas cara-cara memimpin yang terapkan oleh pemimpin tersebut.”

Jadi derajat keterpengaruhan didalam sebuah kepemimpinan san¬gat mutlak adanya, orang yang tidak mempunyai pengaruh atau tidak dapat mem¬pengaruhi bawahan dan lingkungannya bisa dikatakan kepemimpi¬nannya gagal. Sehingga apa yang menjadi tujuan bersama dari sebuah organisasi ha¬nyalah tinggal angan-angan belaka.


Fungsi Kepemimpinan
Fungsi artinya jabatan (pekerjaan) yang dilakukan atau kegunaan su¬atu hal atau kerja suatu bagian tubuh. Sedangkan fungsi kepemimpinan ber¬hubungan langsung dengan situasi sosial dalam kehidupan kelom¬pok/organisasi masing-masing, yang mengisyaratkan bahwa setiap pemim¬pin berada dalam dan bukan di luar situasi itu. Fungsi kepemimpinan me¬rupakan gejala sosial, karena itu diwujudkan dalam interaksi antar individu didalam situasi sosial suatu kelompok/organisasi. Fungsi kepemimpinan memiliki dua dimensi seperti:
a. Dimensi yang berkenaan dengan tingkat kemampuan mengarah¬kan (di¬rection) dalam tindaka atau aktivitas pemimpin.
b. Dimensi yang nerkenaan dengan tinkat dukungan (support) atau ke¬terli¬batan orang-orang yang dipimpin dalam melaksanakan tu¬gas-tu¬gas kelompok/organisasi.
Sementara secara operasional dapat dibedakan dalam lima fungsi po¬kok kepemimpinan, yaitu:
a. Fungsi instruksi
Fungsi ini bersifat satu arah. Pemimpin sebagai komuni¬kator merupakan pihak yang menentukan apa, bagaimana, bila¬mana, dan dimana perintah itu dikerjakan agar keputusan dapat di¬laksanakan secara efektif.
b. Fungsi konsultasi
Fungsi ini bersifat komunikasi dua arah. Pada tahap per¬tama dalam usaha menentukan keputusan, pemimpin kerapkali me¬merlukan bahan pertimbangan, yang mengharuskan berkonsultasi dengan orang-orang yang dipimpinnya yang dinilai mempunyai ba¬han informasi yang diperlukan dalam menetapkan keputusan.
c. Fungsi partisipasi
Dalam menjalankan tugas kepemimpinan ini pemimpin be¬rusaha mengaktifkan orang-orang yang dipimpinnya, baik dalam keikutsertaan mengambil keputusan maupun dalam melaksanakan¬nya. Partisipasi tidak berarti bebas berbuat semaunya, tetapi dilaku¬kan secara terkendali dan terarah berupa kerja sama dengan tidak mencampuri atau mengambil tugas pokok orang lain.
d. Fungsi delegasi
Fungsi ini dilaksanakan dengan memberikan pelimpahan wewenang membuat/menetapkan keputusan, baik melaui kerutusan maupun tanpa persetujuan dari pimpinan. Fungsi delegasi pada da¬sarnya berarti kepercayaan. Orang-orang penerima delegasi itu ha¬rus diyakini merupakan pembantu pemimpin yang memiliki kesa¬maan prinsip, persersi dan aspirasi.
e. Fungsi pengendalian
Fungsi pengendalian bermaksud bahwa kepemimpinan sukses/efektif mampu mengatur anggotanya secara terarah dan da¬lam koordinasi yang efektif, sehingga memungkinkan tercapainya tujuan bersama secara maksimal.
Sedangkan fungsi-fungsi kepemimpinan menurut Siagian adalah se¬bagai berikut:
1. Pimpinan selaku penentu arah yang akan ditempuh dalam usaha pencapaian tujuan.
2. Wakil dan juru bicara dalam hubungan dangan pihak-pihak di¬luar organisasi.
3. Pimpinan selaku komunikator yang yang efektif.
4. Mediator yang handal, khususnya dalam hubungan ke da¬lam, terutama dalam menangani situasi konflik.
5. Pinpinan selaku integrator yang efektif, rasional, obyektif dan netral.


Posted on 01.48 by abdul wahid

No comments